Tata Cara Pelaksanaan Umroh - umrohmurahplus.com |

Tata Cara Pelaksanaan Umroh

PANDUAN UMROH UNTUK WANITA

Bentuk hukum dan tata cara pelaksanaan haji atau umroh khusus untuk wanita dapat dirincikan sebagai berikut:

Harus didampingi oleh mahram/suami, atau beberapa wanita terpercaya. Ini merupakan salah satu syarat kesanggupan (istitha’ah) bagi wanita, dimana istitha’ah itu tak lain adalah salah satu syarat wajib haji atau umroh. Artinya, jika syarat ini tidak terpenuhi maka seseorang wanita tidak wajib menunaikan haji atau umroh, karena dianggap tidak memiliki kesanggupan. Meskipun demikian, jika seorang wanita merasa yakin terhadap keamanannya dalam melaksanakan haji atau umrah sendirian (tanpa pendamping), maka dibolehkan melaksanakannya jika haji atau umrah itu fardu. Tetapi pelaksanaan ini tidak bersifat wajib, hanya dibolehkan (jawaz). (Mahram adalah seorang laki-laki yang tidak dapat menikahinya yaitu saudara laki-laki, ayah, anak laki-laki, ayah suami atau mertua).

Harus mendapatkan izin suami bagi yang mempunyai suami, karena melayani (khidmah) suami sifatnya segera. Sedangkan kewajiban haji/umrah sifatnya bisa diundurkan pelaksanaannya (tarakhkhi). Jika seorang istri melakukan ihram tanpa izin suaminya, maka boleh bagi suami memaksanya bertahalul, dan terhadap istri wajib bertahalul, baik haji atau umrah itu wajib atau sunah. Seandainya isteri bersikeras tidak mau bertahalul, padahal keadaannya memungkinkan bertahalul, lantas suami menggaulinya, maka dalam hal ini isteri tersebutlah yang berdosa, sedangkan suaminya tidak berdosa.

Jika sedang ber-‘iddah karena meninggal suami, haram terhadap wanita berangkat menunaikan haji atau umrah, jika pada saat meninggal suaminya ia belum masuk ke dalam ihram. Adapun jika terdahulu ihramnya atas meninggal suami, maka boleh baginya berangkat menunaikannya.

Jika seorang anita, telah diceraikan dan sedang ber-‘iddah, maka boleh bagi mantan suami melarangnya menunaikan haji atau umrah agar menyelesaikan ’iddahnya terlebih dahulu. Seandainya wanita itu bersikeras pergi haji atau umrah, maka dalam hal ini tidak boleh bagi mantan suami memaksanya bertahalul jika ‘iddah yang sedang dijalani merupakan ‘iddah dari talak bain. Sebaliknya, jika ‘iddah itu raj’I dan mantan suami pun meruju’ di dalam masa ‘iddahnya, maka setelahruju’ dibolehkan bagi suami memaksanya bertahalul.

Wanita boleh berniat ihram dalam keadaan haid atau menstruasi, jika yakin bahwa haidnya akan selesai sebelum ia meninggalkan kota Mekkah. Selama dia belum menajalankan proses tawaf, sa’I, dan tahalul maka dia dalam posisi ihram dan larangannya. Setelah haid selesai maka segera melaksanakan prosesi tawaf, sa’I, dan tahalul. Wanita boleh meminum obat pencegah haid atau mempercepat haid sepanjang itu tidak mendatangkan mudharat baginya.

Dimakruhkan terhadap mereka mengucap talbiyyah dengan suara yang keras. Tetapi cukup dengan ukuran mendengar oleh dirinya sendiri.

Diharamkan terhadap mereka menutup muka di dalam ihram, sama halnya seperti menutup kepala bagi laki-laki. Adapun selain muka dan telapak tangan, maka wajib ditutupi.

Dibolehkan terhadap mereka mengulurkan kain dari kepala ke muka dengan cara merenggangkannya dari muka dengan kayu atau lainnya, meskipunhal itu dilakukan bukan karena suatu kebutuhan. Hokum ini bisa saja berubah menjadi wajib jika meyakini timbulnya fitnah dengan sebab membiarkan muka dalam keadaan terbuka.

Dibolehkan terhadap mereka di dalam ihram memakai pakaian yang meliputi badan (muhith), kecuali sarung tangan (quffaz). Meskipun demikian, jika ingin menutupi telapak tangannya, maka dibolehkan dengan cara membalut kain yang lain di atasnya.

Tidak disunahkan terhadap mereka pada saat tawaf mengusap hajar Aswad 9istilam). Demikian juga tidak disunahkan mengecup, dan meletakkan dahi kepadanya, kecuali dilakukan tiga hal tersebut pada saat sunyi area tawaf dari kaum laki-laki.

Tidak disunahkan terhadap mereka melakukan tawaf dengan mendekat kepada ka’bah, kecuali pada saat sunyi area tawaf dari kaum laki-laki.

Tidak disunahkan terhadap mereka melakukan iththiba’ dan lari-lari kecil (raml0 dalam tawaf. Kedua perbuatan ini bisa saja berubah menjadi haram jika dilakukan dengan tujuan menyerupai laki-laki.
Tidak disunahkan terhadap mereka lari-lari kecil dalam sa’I, tetapi cukup bagi mereka berjalan seperti biasanya saja.

Tidak disunahkan terhadap mereka mencukur rambut ketika bertahalul, tetapi cukup dengan menggunting saja.

Tidak diwajibkan tawaf wada’ terhadap mereka, jika saat ingin meninggalkan Mekkah mereka dalam keadaan haid atau nifas, tetapi disunahkan berdiri pada pintu masjid al-haram, dan memanjatkan doa yang telah ditentukan.

Tawaf wada adalah aktifitas yang terakhir yang dilakukan jamaah ketika hendak meninggalkan kota Mekkah. Hukumnya wajib. Akan tetapi ini tidak berlaku bagi wanita haid atau nifas dan tidak diharuskan membayar dam jika ia meninggalkannya. Apabila wanita telah melaksanakan tawaf ifadah (Haji) kemudian tiba-tiba ia kedatangan haid maka tidak perlu melaksanakan tawaf wada.

Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, pengkhususan tata cara pelaksanaan haji/umrah terhadap kaum wanita dengan berbagai bentuknya, bertujuan untuk menjaga dan melindungi mereka dari berbagai bentuk gangguan dan ketidaknyamanan mereka di dalam melakukan ibadah ini. Hal ini terlihat jelas dari alas an-alasan hokum yang terdapat di dalam setiap rincian di atas. Alasan-alasan hokum yang dapat ditangkap dari uraian tersebut berorientasi kepada pemberian rasa aman terhadap fisik, harta, dan kehormatan mereka. Dengan demikian, pembedaan cara ini merupakan salah satu bentuk perhatian khusus dari syara’ dalam menjaga dan melindungi harkat dan martabat wanita.
Back To Top